Minggu, 09 Februari 2014

Movie Seeker, Cheated On, and Cases



Yo, folks! Again, with me, hehe. Kali ini aku akan membahas sesuatu yang fragile, soal cinta, hati, dan tetek-bengeknya. But, aku mau share beberapa hal tentang film yang aku (lagi-lagi) tonton dua kali, karena menurutku bagus. Sebenarnya aku nggak suka nonton film atau baca buku berulang-ulang. Tapi karena aku orangnya cepet bosanan kalau nggak ngapa-ngapain, ya udah, jadi terpaksa betah melongo di depan monitor laptop, nonton film yang sama untuk yang ke sekian kalinya.


                Yap, kali ini film Friends With Benefits-nya Oom Justin Timberlake *yelling* dan Tante Mila Kunis.  Film yang disutradarai oleh Will Gluck ini mengisahkan tentang sepasang manusia yang bertemu karena Jamie (Mila Kunis) menawarkan pekerjaan apada Dylan (Justin Timberlake) yang sebelumnya bekerja di sebuah periklanan di blog di L.A., menjadi new art director di majalah terkenal bernama GQ Magazine di New York. Maka, dimulailah sebuah pertemuan dan perkenalan unik yang membawa mereka pada situasi yang lebih intim. Yah, sebenarnya sih, bisa dikatakan film ini bergenre “Dewasa”, tapi kalau kalian cukup cerdas untuk mengambil positive and fun side daripada terbawa arus porn and turn on side, we can be friends lol. Aku senang jalan ceritanya, mengalir, natural, dan yah, begitu saja. Seperti melihat kejadian yang benar-benar manusiawi dan seperti tidak ada naskah yang mereka baca sebelumnya. Sebagai salah seorang sutradara (ciee!), aku bisa lihat dan merasakannya—yah, walaupun masih amatir sih akunya-_- Friends With Benefits berhasil menunjukkan benefits tanpa terkesan asal show off poin yang ingin ditunjukkan pada penonton. Misdireksi, miskomunikasi, dan beberapa lelucon renyah juga berhasil dilakoni Mila dengan sangat baik. Potongan scene dan music yang di input pada film berhasil membuatku betah dan keningku nggak berkerut selama nonton filmnya. Pfft, lama-lama aku beneran jadi movie seeker nih-_-

                Ngomong-ngomong soal baik, ternyata, dari banyaknya cowok brengsek di dunia ini yang menjadi mayoritas dominan entah sejak kapan, masih ada juga cowok baik. Beberapa waktu yang lalu, saat mencari foto-foto Ariana Grande di Google (habis nonton Sam and Cat soalnya hehe), aku menemukan capture-an tweet Jai Brooks yang berisi curahan hatinya, SEMUA curahan hatinya tentang bagaimana pedihnya ditikung oleh Nathan Sykes, partner duet Ariana pada lagu Almost Is Never Enough. Biasaa, cinlok. Berikut cuplikannya (asik!);


                Nah, ada yang membuatku sedikit terusik. Terutama di bagian “I have learnt how to find happiness on my own without relying on anyone else”. Well, bagus buat Jai yang bisa nyari kebahagiaannya tanpa bergantung dengan orang lain. Kebahagiaan emang kita yang cari, tapi hakikatnya, kebahagiaan sejati berasal dari kebahagiaan orang-orang di sekitar kita. Sejujurnya, kebahagiaan berasal dari simpati, which means berasal dari hati nurani, sosialisasi, apapun di sekitar kita. Kebahagiaan itu tidak tunggal, ada variable bebas dan terikat, sebab-akibat. Jadi, kalau mau ditilik secara mendalam, hal yang dikatakan Jai bisa dibilang bertentangan. Tapi, karena ini adalah tulisan curahan hati, jadi mari lupakan detilisasi yang baru saja kuutarakan, hehe.

               Orang ketiga. Yah, sepanjang masa perjalanan cintaku (geli-_-), kayaknya sih nggak pernah putus gara-gara orang ketiga…pernah nggak, ya? Nggak lah kayaknya. Mungkin, sih. Habisnya kebanyakan dari mereka nggak pantas diingat lagi, dan sejujurnya—in this case, fortunately—aku juga pelupa-_- jadi ya begitu. Tapi aku pernah kok ngerasain terusik sama seseorang di luar lingkaran. Maksudku, orang-orang yang masih simpan rasa gitu sama cowokku. Tapi, aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya di posisi orang di luar lingkaran itu-_- dan sekarang aku jadi bingung akan membahas yang mana satu, hahaha.
  
              Baiklah, bagaimana kalau tidak keduanya. Kita bahas saja korban perselingkuhan yang pastinya nyesek sampai ke inti bumi. Being cheated on was sucks. Selain alasan basi “Kamu terlalu baik buat aku *puppy eyes* (BLAH!)”, “Aku mau fokus belajar (asli, ini alasan dari jaman Megantropus Paleojavanicus udah dipakai kayaknya-_-)”, “Kita nggak cocok lagi”, atau “Kamu nggak pernah ngertiin aku!”, diselingkuhin salah satu faktor terbesar untuk putus. Yah, walaupun masih aja ada yang sabar maafin pacarnya yang udah selingkuhin dia. Orang-orang yang termasuk di kalimat terakhir adalah jenis manusia yang antara sayangnya tulus dan orangnya tahan dimaki “Bego amat sih lu!” sama temen-temennya-_-
  
              Selingkuh itu jelas akibat bujuk rayu setan. Imannya nggak kuat, cinta hanya sekedar simbol, dan menjadi pengecut seketika karena enggan jujur untuk menyudahi yang sudah ada. Tamak? Bisa jadi. Kufur nikmat sih itu. Kasus pertama: pacar cantik/ganteng, tapi posesif. Jadinya capek, malas mutusin, mending selingkuhin. Kalau kalian ketemu sama tipe begini, gamparin aja, terus introspeksi diri karena kamunya juga salah. Kasus kedua: pacar jelek/wajah standard, buat selingan doang, selingkuhin karena mau cari selingan lain yang lebih oke. Kalau kalian ketemu sama tipe begini, bunuh di tempat. Kasus ketiga: udah pacaran lama, tapi hubungannya makin flat dan memutuskan untuk mencari “kebahagiaan” pada orang lain. Kalau kalian ketemu dengan tipe seperti ini ya sebaiknya dibicarakan aja. Bagusnya lagi nih, langsung putus biar nggak kebanyakan ngeles dianya. Kasus keempat: sama-sama doyan selingkuh. Kalau kalian tipe yang begini, mati aja dah, habis cerita-_-

                 Nah, demikian pembahasan kali ini. Semoga ada manfaatnya ya! Oh ya, kalau ada film keren yang udah di download, kasih tau Tari supaya bisa minta dan di email-in hoho. Buh-byeee~



P.S: berikut recently update dari sebuah website UK tentang Taylor Swift. Check this out! http://www.telegraph.co.uk/culture/music/rockandpopfeatures/10619561/Taylor-Swift-makes-eternal-teens-of-us-all.html


Xoxo,
Author 

Jumat, 07 Februari 2014

Think About It


                Hola! Balik lagi sama author :D di post kali ini, Tari mau ngebahas sesuatu yang, hmm, tiba-tiba aja menghujani pikiranku dan minta sesegera mungkin ditumpahkan ke blog.  Apa itu?


               Jadi, ceritanya, beberapa hari yang lalu aku nonton film “5 cm.” Ya, ya, aku tahu aku telat (as usual-_-). Sadar kok aku, ini so last year banget. Dan kemarin, aku nonton ulang untuk kedua kalinya. Tapi buat kalian-kalian yang belum nonton, 5cm. adalah salah satu film terkeren karya anak bangsa yang wajib masuk di dalam list film-wajib-nonton kamu. Nggak cuma jual cerita, 5cm. ngajarin kita banyak banget hal dari macam-macam tingkatan. Donny Dhirgantoro, sebagai penulis naskah bekerja sama dengan Rizal Mantovani selaku sutradara memberi fokus pada di persahabatan. Tapi nggak seperti film-film lain, 5cm. seakan menampar kembali remaja masa kini tentang pentingnya menghargai negeri sendiri dan mencintainya dengan cara kita sendiri. Nggak harus daki Gunung Mahameru juga kok kayak Genta, Zafran, Riani, Arian, Ian, dan Dinda-_- itu ekstrem banget. Tapi kalau kalian emang hobi mendaki, silahkan saja. Sekalian paskan timing-nya supaya sampai di puncak Mahameru tepat tanggal 17 Agustus. Jadi kalian bisa menikmati matahari pertama saat ulang tahun Ibu Pertiwi, plus kibarin bendera merah-putih di atasnya—biar gereget :p tapi, katanya sih, novelnya nggak sebagus filmnya. Mungkin kerasa lebih real di film kali, ya karena ngelihat view-nya langsung. Apalagi didukung dengan sound-nya yang berhasil bikin aku merinding.
  
              Aku nggak akan kasih spoiler banyak-banyak soal film 5cm. karena aku juga nggak suka di-spoiler­-in hehe. Mungkin aku bakal ngasih review amatir sedikit soal film ini karena mengispirasi aku untuk semangat ngeraih mimpi. Nah, cerita bermula dari 5 orang sahabat yang sudah bersama hingga 10 tahun. Genta, daydreamer and great achiever; Zafran, Khalil Gibran masa kini yang jatuh hati pada Dinda, Adik Arial; Riani, satu-satunya member cewek yang doyan minta kuah ke Ian kalau lagi makan mie instan; Arial, cowok macho-doyan-fitness-tapi-takut-sama-cewek; Ian, gendut-unyu yang berjuang selesain skripsinya (dia kuliah di UI bro!!); dan Dinda, adik Arial yang kuliah di Fakultas Ekonomi yang super datar.

                Mereka memutuskan untuk berpisah selama 3 bulan, mencoba keluar dari zona nyaman dengan tujuan fokus pada diri masing-masing—meraih impian yang belum sempat dicapai. Mereka berlima dilarang berkontak via apapun. Genta berencana untuk mengumpulkan kembali dan merahasiakan lokasi reuni hingga tanggal 7 Agustus, dimana mereka nantinya akan reunited di Stasiun Senen dengan tujuan Jakarta-Malang. Sisanya? Nonton sendiri :p mungkin udah bisa ditebak dari posternya, cuma apa yang 5cm. suguhkan benar-benar fantastis. Mungkin kalau aku menontonnya di kursi bioskop, jantungku bakal copot dan lebih “kerasa” feeling-nya. Sayang, aku udah telat, hehe.

               Selanjutnya, aku pengen ngebahas sesuatu yang dinamakan hobi atau minat. Ceritanya, aku punya teman di kelas, sebut saja namanya Guspita—sebenarnya itu nama aslinya-_- dia ini keren. Intelek, berkelas, dan muslimah sejati. Posisinya sebagai juara 1 di kelasku nggak tergoyahkan dua tahun berturut-turut (karena kelasku tidak di-rolling, jadi kami semua sekelas selama dua tahun). Dia juga turut serta dalam lomba Olimpiade Ekonomi tingkat nasional di UGM! Fiuhh *longgarin kerah baju* emang bro, dia dahsyat banget. Nah, dia ini, bacaannya juga paten. Kebanyakan biografi, permasalahan dunia tentang iluminati dan freemason, petuah islam karya Felix Siauw tentang perpacaran, serta penyerangan di Afghanistan juga dilahap. Beberapa temanku yang terkena “virus”-nya berhasil menyesuaikan diri dengan baik. Mampu mengikuti gerak positifnya. Jadi, pikirku, kenapa aku nggak iutan mencoba buku-buku yang serupa. Maka bacalah aku, dan berkerutlah keningku. Nggak, nggak, bukannya aku cewek-bego-yang-nggak-mau-nyentuh-buku-“keren”, tapi…rasanya itu bukan aku.

               Nggak ngerti, ya? Hm, singkat dan kasarnya, buku-buku sejenis itu, bukan mainan-ku. Yang kusuka adalah sastra fiksi yang nggak lain berupa cerpen dan novel. Dan aku menyadari, mungkin bagus mengikuti perkembangan fakta yang terjadi di sekeliling kita melalui buku-buku yang kusebutkan di atas. Hanya saja, tidak semua orang berhasil nyaman dengan hal itu. Misalnya saja, kau berteman pada A yang menawarkan café oke langganannya. Tapi saat kalian coba makanannya, tidak sesuai dengan lidahmu. Pasti ujung-ujungnya kalian kembali kan, ke café favorit kalian? Nah, itu juga yang kurasakan.

Minat dan hobi itu relatif, murni, alami, dan mengalir. Banyak orang yang bingung minatnya dimana, hobinya apa? Lalu memaksa sesuatu untuk masuk ke dalam diri mereka. Itu jelas saja salah—kalau menurutku sih. Intinya adalah pengalaman dan berani membunuh gengsi untuk mencoba hal baru yang ingin kalian ketahui. Kalau kalian selalu terkungkung rasa takut, selamanya kalian tidak akan menemukan hal yang kalian cari. Aku adalah orang yang percaya bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini membutuhkan proses, tidak ada yang instan. Bahkan sekalinya mie instan pun harus membutuhkan proses, kan? Dijerang airnya, dikeluarin bumbunya, disaring airnya, diaduk, baru deh jadi. Ketika kalian sudah melakukan, melihat, merasakan hal-hal baru, otomatis otak kalian akan menyirkulasi sel-sel yang “nganggur” dan mengisinya dengan pemikiran-pemikiran kreatif. Otomatis, kalian akan mendapatkan ketertarikan yang nantinya bermuara pada misi dan visi. Dengan begitu, serangkaian proses yang telah kalian jalani akan berbuah minat dan hobi karena kalian lakukan secara kontinu dan berasal dari hati. Mudah? Ya nggak lah! Makanya kalau mau tahu, buat yang masih malu, coba lakukan hal-hal sederhana dulu. Nggak apa-apa kecil, asal akarnya kuat dan ada progres. Begitulah kira-kira.

Dan yang terakhir, aku ingin membahas apa yang sedang menimpaku akhir-akhir ini. Kejadiannya hari Rabu kemarin, dan berhasil membuat duniaku jungkir-balik dalam sekejap—untungnya sekejap aja, dua harian gitu. Jadi, si pacar lagi terkena musibah, dan aku shock luar biasa. Duh, jangan sampai lagi deh itu kejadian ya Allah. Dan, dua hari itu, aku uring-uringan, tensi tiba-tiba menukik vertikal, dan semua orang benar-benar membuatku kesal kala itu—padahal mereka nggak ngapa-ngapain-_- permasalahan yang ingin kubahas adalah perihal komparasi personalitas kita yang dulu dan sekarang. Katakanlah ada seseorang yang dulunya dikenal sangat baik, penyayang, santun, nakal tapi tidak berandal, dan tidak terlalu tertinggal inteleknya. Seketika saja, semua itu berubah seiring bergandengnya ia dengan waktu. Imej baik itu luntur, memudar, hingga hilang sama sekali. Aku menyayangkan hal itu. Sangat menyayangkan. Lantas aku berpikir, bukankah sangat tidak bagus jika kita meratap pada apa yang sudah jauh tertinggal di belakang? Bukankah lebih mulia jika kita memikirkan perbaikan yang mampu dilakukan untuk masa mendatang? Dan ruangan yang kelam pun pasti akan disinari mentari jika kita menyibak gordein yang menghalangi. Harapanku selalu sama setiap harinya…hh, ntahlah, kalau membicarakan hal itu rasanya masih nyesek. Ini aja nggak tahu mau nulis apalagi tiba-tiba. Hh, ya sudahlah, karena semangat mulai mengendur, kusudahi saja sesi kali ini.

Oh, ya! Aku baru ingat. Hampir kelupaan. Pengen ngumumin sesuatu; mulai bulan depan aku bakal jarang banget nge-post karena akan disibukkan dengan berbagai macam ujian. Tanggal 17 Februari ini aja aku udah mulai Try Out se-Kota Batam-_- bulan depan TO lagi, lanjut UAS, terus Ujian Praktek. Doakan aku supaya bisa melewatinya dengan sukses, amin. See ya, fellas!

A proud weirdo,
Author 

Minggu, 02 Februari 2014

FEBRUARY



   
             Hello, dear! First of all, I’d like to say welcome to February. Udah Februari aja-_- nggak kerasa. Iya. Banget!! Hahaha, jadi, masih seperti sebelumnya, counting down for final examination. Dan sudah H-71 sekarang. Whoaaa!! Okay, need to calm down. Fuuh.
                Jadi, sesuai janji sebelumnya, aku mau post salah satu cerpen yang terakhir kuketik. Judulnya klasik. Yah, alurnya juga sih. Tapi aku suka sekali dengan cerpen ini, dan kumasukkan ke dalam list cerpen favoritku.
                Hope you enjoy it. Check this out, folks!



ROMEO AND JULIETTE

Hal yang paling kuingat saat itu adalah abu yang terkoyak menjadi serpihan-serpihan kecil membelai wajahku lembut. Menutupi tiap senti tubuhku yang terbalut baju tebal. Bahuku terasa berat. Berpikir sejenak apa yang membuatnya terasa demikian. Lalu, perlahan, kesadaranku pulih. Benakku menyusun jelas puing-puing ingatan yang terjadi dalam waktu beberapa jam terakhir. Ini adalah malam penentuan.
            Sesuatu menarikku lembut hingga aku berdiri sempurna. Aku diseret menjauh dengan cepat. Diangkat, lalu ditaruh di bahu seseorang. Perutku terasa nyeri dan mual. Ketika berhenti, aku diturunkan. Aku nyaris roboh saat sebuah tangan kokoh menahanku.
            “Kau terlihat payah Opsir Smith.” Katanya mencemooh. Tapi aku tidak sakit hati. Mataku membelalak beberapa saat, menatapnya dari atas hingga ujung sepatu bot kulitnya tanpa melewatkan satu pun. Aku bersyukur ia masih baik-baik saja walau aku tahu ada yang berdarah di dalam sana. Setidaknya ia masih hidup.
            “Maaf Ay…”
            “Uh-uh,” tulunjuknya menari-nari di hadapanku. Sebuah peringatan.
            Aku mengangguk mengerti dan memutuskan untuk diam. Jendral John berbalik berkata, “Untuk sementara, kita bisa bernapas sedikit. Tempat ini cukup tersembunyi. Ada waktu satu jam—atau kurang—sebelum musuh sampai ke tempat ini.”
            Kudongakkan wajahku. Kami berada di dalam sebuah ruangan berbentuk silinder raksasa yang terbuat dari kayu. Langit-langitnya tinggi, agak lembab, dan terlalu luas untuk kami bersepuluh. Di sudut ruangan, aku melihat Hanson sedang dibalut perban oleh Vanessa. Sebuah peluru berhasil menembus bahunya. Ngomong-ngomong soal peluru, aku baru ingat kalau persediaan senjataku terlampau banyak. Pantas saja sedari tadi bahuku berat. Kubetulkan letak senapan M9 dan M400-ku di bahu. Berharap mereka tidak merosot saat kubutuhkan di lapangan.
            “Opsir Dalton dan Opsir Smith, kalian akan keluar dari medan. Di bagian utara pulau sudah menunggu helikopter yang akan membawa kalian pada Perdana Menteri. Yang kalian perlu lakukan hanyalah lari sekuat mungkin dan tetap waspada.” Tukas pria tua di depanku. Aku tersentak.
            “Maaf?”
            “Kau dan Opsir Dalton pergi sejauh mungkin dari sini… dan jangan pernah kembali.” Jelasnya sabar. Ia kembali berbalik menuju satu-satunya pintu di ruangan itu. Dengan cepat, aku mencegatnya dan menatap tepat di manik matanya.
            “Anda tidak bisa begitu saja…”
            “Jelas aku bisa.”
            “Tidak! Saya tidak mungkin meninggalkan Anda dan yang lainnya di sini.” Suaraku mulai serak. Tenggorokanku tersumbat.
            Pria tua itu menghela napas. Dikuncinya manikku agar tetap menatapnya. “Juliette, dengar,” telapak tangannya yang kasar mengelus lembut pipiku. “Kita berada dalam misi.”
            “Ya, dan aku tidak akan pergi dan membiarkanmu mati.”
“Lebih baik kehilangan satu nyawa daripada satu milyar penduduk lainnya.” Kepalaku menggeleng. Air mataku menggenang di pelupuk. “Apa pun yang terjadi… aku tetap bangga padamu dan bahagia melihatmu tumbuh.” Tutupnya. Aku terpaku dan menunduk.
Digedikkannya bahu agar aku kembali berjalan tegap sebagaimana mestinya. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang telah diaturnya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai imbalan atas pengorbanannya, aku harus menuntaskan misi ini.
“Datanya sudah ada padaku. Sekarang, simpanlah” Ujar Dalton seraya menyerahkan sekeping disket saat aku tengah bersiap-siap. Kuputar mataku menatapnya dan mengambil disket itu darinya, lalu kuletakkan dengan baik di mantel dalam. Setelahnya, kuikat tali sepatu botku erat.
“Tegarlah. Kita pasti berhasil.” Kembali kuputar mataku. Dalton terlihat berbeda. Ia tidak lagi teman SMA-ku yang selalu saja berkelahi dengan murid-murid sekolah lain atau terlihat seperti prajurit kacangan yang kerjanya hanya menggoda perempuan saat di kantin barak pelatihan. Sekarang, tepat di sampingku, Romeo Dalton menjelma menjadi pelindungku. Bagi semua prajurit yang tersisa, aku adalah sebuah pedang yang harus tetap terhunus ke depan bagaimana pun caranya. Walaupun Dalton tidak mengatakan bahwa ia bersedia menjadi tameng, aku tahu ia sudah memulainya dengan baik.
Mereka semua terluka. Begitu juga aku. Tapi kami di sini karena misi. Dan sesegera mungkin pasti kuakhiri. Maka, kami bersepuluh mulai bergerak turun dari persembunyian. Ternyata sedari tadi kami berada dalam pohon ek raksasa yang disulap bagian dalamnya menjadi sebuah ruangan darurat.
“Semuanya bersiap!” seketika, semua senapan berbunyi “klik”, siap untuk digunakan. Delapan orang lainnya sudah berada di atas tanah dan berpencar menurut formasi yang sudah dibagi. Saat aku dan Dalton menjejak tanah, secepat angin berhembus, secepat itu pula kami menghilang di balik pohon yang bergerombol.
***
Aku berlutut di hadapan sebuah batu marmer. Putih dan dingin. Padahal saat itu adalah minggu musim panas yang pertama. Kusentuh nisan itu perlahan, menyusuri nama yang terpahat di atasnya. Seorang lagi mengikutiku. Bersimpuh dan mengusap wajah.
            “Misi kita berhasil.” Tukasku. Pria di sampingku hanya diam.
“Dia benar-benar bangga telah melakukannya.” Kataku lagi. “Hah, si bodoh itu…”
Kata-kataku menggantung karena mataku mulai memanas. Terhenti di antara buaian angin.
“Dan aku juga bangga melihatnya berjuang demi negara.”
 “Dia tidak hanya berjuang demi negara, Sir.”
“Aku tahu.”
Ada jeda yang lama. Di antara jeda yang panjang, aku menghela napas berat dan memutar ulang apa yang telah di kualami selama bertahun-tahun dengan Juliette Smith. Gadis itu adalah yang termuda di SMA. Sangat cantik dan kuat. Juara nasional dan internasional karate dan aikido lima tahun berturut-turut. Rambut cokelatnya yang panjang sangat indah dan selalu dibiarkannya tergerai. Tidak ada satu pun yang berani mendekatinya di sekolah kecuali aku, Romeo Dalton, yang selalu mengerjainya di setiap saat yang kupunya. Aku tahu tentang statusnya yang notabene adalah anak jenderal ternama di Amerika, dan aku tahu hal itu mau tidak mau menjadi beban baginya karena Jenderal John Smith sangat menginginkan putrinya mengikuti jejaknya di dunia kemiliteran.
Itu jugalah yang membuat pribadinya keras, serius, dan bahkan tak bisa pergi ke pesta prom karena ia berhasil lulus lebih awal dan masuk ke akademi militer satu tahun lebih cepat dariku. Tapi aku berhasil menyusulnya. Kami berhasil dipertemukan pada satu misi yang sama dan membahayakan nyawa. Maka, ketika aku berkesempatan untuk menjadi pelindung baginya, aku bahagia, karena aku yakin dia pasti selamat dan aman bersamaku.
Tapi yang terjadi memang bukan yang kuinginkan. Setelah mendengar serentetan peluru ditembakkan, tekadnya goyah. Bisa kudengar sampai sekarang permohonannya untuk meneruskan misi itu ke tanganku. Dia? Hah, si bodoh itu tentu saja dengan senyum manisnya berkata bahwa ia akan kembali ke medan pertempuran membantu ayahnya.
“Aku sangat kaget saat tanganku ditarik paksa olehnya dan kau menurunkan pengait untuk memaksaku naik ke helikopter.” Ujar Jenderal Smith berat. Matanya sendu.
“Itu idenya. Si Bodoh itu sudah menyiapkan strategi spontan. Aku juga kaget kenapa aku mau saja mengikuti keinginannya.”
Jenderal Smith tertawa kecil.
“Apa?” tanyaku.
“Kau sebenarnya tau alasannya anak muda.” Katanya. Aku diam saja karena mengerti apa maksudnya. Setelah menepuk bahuku, pria tua itu berlalu.
Ya, aku tahu mengapa aku mau saja mengikuti permintaannya. Mengapa aku masih saja menggodanya walau rambut brunette indahnya terpangkas habis. Mengapa aku ingin dan bahagia ketika melindunginya. Dan mengapa namanya masih terpatri di benakku walau dia telah tiada.
“Tunggu aku di sana, Juliette.”