Minggu, 02 Februari 2014

FEBRUARY



   
             Hello, dear! First of all, I’d like to say welcome to February. Udah Februari aja-_- nggak kerasa. Iya. Banget!! Hahaha, jadi, masih seperti sebelumnya, counting down for final examination. Dan sudah H-71 sekarang. Whoaaa!! Okay, need to calm down. Fuuh.
                Jadi, sesuai janji sebelumnya, aku mau post salah satu cerpen yang terakhir kuketik. Judulnya klasik. Yah, alurnya juga sih. Tapi aku suka sekali dengan cerpen ini, dan kumasukkan ke dalam list cerpen favoritku.
                Hope you enjoy it. Check this out, folks!



ROMEO AND JULIETTE

Hal yang paling kuingat saat itu adalah abu yang terkoyak menjadi serpihan-serpihan kecil membelai wajahku lembut. Menutupi tiap senti tubuhku yang terbalut baju tebal. Bahuku terasa berat. Berpikir sejenak apa yang membuatnya terasa demikian. Lalu, perlahan, kesadaranku pulih. Benakku menyusun jelas puing-puing ingatan yang terjadi dalam waktu beberapa jam terakhir. Ini adalah malam penentuan.
            Sesuatu menarikku lembut hingga aku berdiri sempurna. Aku diseret menjauh dengan cepat. Diangkat, lalu ditaruh di bahu seseorang. Perutku terasa nyeri dan mual. Ketika berhenti, aku diturunkan. Aku nyaris roboh saat sebuah tangan kokoh menahanku.
            “Kau terlihat payah Opsir Smith.” Katanya mencemooh. Tapi aku tidak sakit hati. Mataku membelalak beberapa saat, menatapnya dari atas hingga ujung sepatu bot kulitnya tanpa melewatkan satu pun. Aku bersyukur ia masih baik-baik saja walau aku tahu ada yang berdarah di dalam sana. Setidaknya ia masih hidup.
            “Maaf Ay…”
            “Uh-uh,” tulunjuknya menari-nari di hadapanku. Sebuah peringatan.
            Aku mengangguk mengerti dan memutuskan untuk diam. Jendral John berbalik berkata, “Untuk sementara, kita bisa bernapas sedikit. Tempat ini cukup tersembunyi. Ada waktu satu jam—atau kurang—sebelum musuh sampai ke tempat ini.”
            Kudongakkan wajahku. Kami berada di dalam sebuah ruangan berbentuk silinder raksasa yang terbuat dari kayu. Langit-langitnya tinggi, agak lembab, dan terlalu luas untuk kami bersepuluh. Di sudut ruangan, aku melihat Hanson sedang dibalut perban oleh Vanessa. Sebuah peluru berhasil menembus bahunya. Ngomong-ngomong soal peluru, aku baru ingat kalau persediaan senjataku terlampau banyak. Pantas saja sedari tadi bahuku berat. Kubetulkan letak senapan M9 dan M400-ku di bahu. Berharap mereka tidak merosot saat kubutuhkan di lapangan.
            “Opsir Dalton dan Opsir Smith, kalian akan keluar dari medan. Di bagian utara pulau sudah menunggu helikopter yang akan membawa kalian pada Perdana Menteri. Yang kalian perlu lakukan hanyalah lari sekuat mungkin dan tetap waspada.” Tukas pria tua di depanku. Aku tersentak.
            “Maaf?”
            “Kau dan Opsir Dalton pergi sejauh mungkin dari sini… dan jangan pernah kembali.” Jelasnya sabar. Ia kembali berbalik menuju satu-satunya pintu di ruangan itu. Dengan cepat, aku mencegatnya dan menatap tepat di manik matanya.
            “Anda tidak bisa begitu saja…”
            “Jelas aku bisa.”
            “Tidak! Saya tidak mungkin meninggalkan Anda dan yang lainnya di sini.” Suaraku mulai serak. Tenggorokanku tersumbat.
            Pria tua itu menghela napas. Dikuncinya manikku agar tetap menatapnya. “Juliette, dengar,” telapak tangannya yang kasar mengelus lembut pipiku. “Kita berada dalam misi.”
            “Ya, dan aku tidak akan pergi dan membiarkanmu mati.”
“Lebih baik kehilangan satu nyawa daripada satu milyar penduduk lainnya.” Kepalaku menggeleng. Air mataku menggenang di pelupuk. “Apa pun yang terjadi… aku tetap bangga padamu dan bahagia melihatmu tumbuh.” Tutupnya. Aku terpaku dan menunduk.
Digedikkannya bahu agar aku kembali berjalan tegap sebagaimana mestinya. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang telah diaturnya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai imbalan atas pengorbanannya, aku harus menuntaskan misi ini.
“Datanya sudah ada padaku. Sekarang, simpanlah” Ujar Dalton seraya menyerahkan sekeping disket saat aku tengah bersiap-siap. Kuputar mataku menatapnya dan mengambil disket itu darinya, lalu kuletakkan dengan baik di mantel dalam. Setelahnya, kuikat tali sepatu botku erat.
“Tegarlah. Kita pasti berhasil.” Kembali kuputar mataku. Dalton terlihat berbeda. Ia tidak lagi teman SMA-ku yang selalu saja berkelahi dengan murid-murid sekolah lain atau terlihat seperti prajurit kacangan yang kerjanya hanya menggoda perempuan saat di kantin barak pelatihan. Sekarang, tepat di sampingku, Romeo Dalton menjelma menjadi pelindungku. Bagi semua prajurit yang tersisa, aku adalah sebuah pedang yang harus tetap terhunus ke depan bagaimana pun caranya. Walaupun Dalton tidak mengatakan bahwa ia bersedia menjadi tameng, aku tahu ia sudah memulainya dengan baik.
Mereka semua terluka. Begitu juga aku. Tapi kami di sini karena misi. Dan sesegera mungkin pasti kuakhiri. Maka, kami bersepuluh mulai bergerak turun dari persembunyian. Ternyata sedari tadi kami berada dalam pohon ek raksasa yang disulap bagian dalamnya menjadi sebuah ruangan darurat.
“Semuanya bersiap!” seketika, semua senapan berbunyi “klik”, siap untuk digunakan. Delapan orang lainnya sudah berada di atas tanah dan berpencar menurut formasi yang sudah dibagi. Saat aku dan Dalton menjejak tanah, secepat angin berhembus, secepat itu pula kami menghilang di balik pohon yang bergerombol.
***
Aku berlutut di hadapan sebuah batu marmer. Putih dan dingin. Padahal saat itu adalah minggu musim panas yang pertama. Kusentuh nisan itu perlahan, menyusuri nama yang terpahat di atasnya. Seorang lagi mengikutiku. Bersimpuh dan mengusap wajah.
            “Misi kita berhasil.” Tukasku. Pria di sampingku hanya diam.
“Dia benar-benar bangga telah melakukannya.” Kataku lagi. “Hah, si bodoh itu…”
Kata-kataku menggantung karena mataku mulai memanas. Terhenti di antara buaian angin.
“Dan aku juga bangga melihatnya berjuang demi negara.”
 “Dia tidak hanya berjuang demi negara, Sir.”
“Aku tahu.”
Ada jeda yang lama. Di antara jeda yang panjang, aku menghela napas berat dan memutar ulang apa yang telah di kualami selama bertahun-tahun dengan Juliette Smith. Gadis itu adalah yang termuda di SMA. Sangat cantik dan kuat. Juara nasional dan internasional karate dan aikido lima tahun berturut-turut. Rambut cokelatnya yang panjang sangat indah dan selalu dibiarkannya tergerai. Tidak ada satu pun yang berani mendekatinya di sekolah kecuali aku, Romeo Dalton, yang selalu mengerjainya di setiap saat yang kupunya. Aku tahu tentang statusnya yang notabene adalah anak jenderal ternama di Amerika, dan aku tahu hal itu mau tidak mau menjadi beban baginya karena Jenderal John Smith sangat menginginkan putrinya mengikuti jejaknya di dunia kemiliteran.
Itu jugalah yang membuat pribadinya keras, serius, dan bahkan tak bisa pergi ke pesta prom karena ia berhasil lulus lebih awal dan masuk ke akademi militer satu tahun lebih cepat dariku. Tapi aku berhasil menyusulnya. Kami berhasil dipertemukan pada satu misi yang sama dan membahayakan nyawa. Maka, ketika aku berkesempatan untuk menjadi pelindung baginya, aku bahagia, karena aku yakin dia pasti selamat dan aman bersamaku.
Tapi yang terjadi memang bukan yang kuinginkan. Setelah mendengar serentetan peluru ditembakkan, tekadnya goyah. Bisa kudengar sampai sekarang permohonannya untuk meneruskan misi itu ke tanganku. Dia? Hah, si bodoh itu tentu saja dengan senyum manisnya berkata bahwa ia akan kembali ke medan pertempuran membantu ayahnya.
“Aku sangat kaget saat tanganku ditarik paksa olehnya dan kau menurunkan pengait untuk memaksaku naik ke helikopter.” Ujar Jenderal Smith berat. Matanya sendu.
“Itu idenya. Si Bodoh itu sudah menyiapkan strategi spontan. Aku juga kaget kenapa aku mau saja mengikuti keinginannya.”
Jenderal Smith tertawa kecil.
“Apa?” tanyaku.
“Kau sebenarnya tau alasannya anak muda.” Katanya. Aku diam saja karena mengerti apa maksudnya. Setelah menepuk bahuku, pria tua itu berlalu.
Ya, aku tahu mengapa aku mau saja mengikuti permintaannya. Mengapa aku masih saja menggodanya walau rambut brunette indahnya terpangkas habis. Mengapa aku ingin dan bahagia ketika melindunginya. Dan mengapa namanya masih terpatri di benakku walau dia telah tiada.
“Tunggu aku di sana, Juliette.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar