Hello, dear! First of all, I’d like to say welcome to February.
Udah Februari aja-_- nggak kerasa. Iya. Banget!! Hahaha, jadi, masih
seperti sebelumnya, counting down for
final examination. Dan sudah H-71 sekarang. Whoaaa!! Okay, need to calm down. Fuuh.
Jadi,
sesuai janji sebelumnya, aku mau post
salah satu cerpen yang terakhir kuketik. Judulnya klasik. Yah, alurnya juga sih.
Tapi aku suka sekali dengan cerpen ini, dan kumasukkan ke dalam list cerpen favoritku.
Hope you enjoy it. Check this out, folks!
ROMEO
AND JULIETTE
Hal yang paling kuingat saat itu adalah abu yang
terkoyak menjadi serpihan-serpihan kecil membelai wajahku lembut. Menutupi tiap
senti tubuhku yang terbalut baju tebal. Bahuku terasa berat. Berpikir sejenak
apa yang membuatnya terasa demikian. Lalu, perlahan, kesadaranku pulih. Benakku
menyusun jelas puing-puing ingatan yang terjadi dalam waktu beberapa jam
terakhir. Ini adalah malam penentuan.
Sesuatu
menarikku lembut hingga aku berdiri sempurna. Aku diseret menjauh dengan cepat.
Diangkat, lalu ditaruh di bahu seseorang. Perutku terasa nyeri dan mual. Ketika
berhenti, aku diturunkan. Aku nyaris roboh saat sebuah tangan kokoh menahanku.
“Kau
terlihat payah Opsir Smith.” Katanya mencemooh. Tapi aku tidak sakit hati.
Mataku membelalak beberapa saat, menatapnya dari atas hingga ujung sepatu bot
kulitnya tanpa melewatkan satu pun. Aku bersyukur ia masih baik-baik saja walau
aku tahu ada yang berdarah di dalam sana. Setidaknya ia masih hidup.
“Maaf
Ay…”
“Uh-uh,”
tulunjuknya menari-nari di hadapanku. Sebuah peringatan.
Aku
mengangguk mengerti dan memutuskan untuk diam. Jendral John berbalik berkata,
“Untuk sementara, kita bisa bernapas sedikit. Tempat ini cukup tersembunyi. Ada
waktu satu jam—atau kurang—sebelum musuh sampai ke tempat ini.”
Kudongakkan
wajahku. Kami berada di dalam sebuah ruangan berbentuk silinder raksasa yang
terbuat dari kayu. Langit-langitnya tinggi, agak lembab, dan terlalu luas untuk
kami bersepuluh. Di sudut ruangan, aku melihat Hanson sedang dibalut perban
oleh Vanessa. Sebuah peluru berhasil menembus bahunya. Ngomong-ngomong soal
peluru, aku baru ingat kalau persediaan senjataku terlampau banyak. Pantas saja
sedari tadi bahuku berat. Kubetulkan letak senapan M9 dan M400-ku di bahu.
Berharap mereka tidak merosot saat kubutuhkan di lapangan.
“Opsir
Dalton dan Opsir Smith, kalian akan keluar dari medan. Di bagian utara pulau
sudah menunggu helikopter yang akan membawa kalian pada Perdana Menteri. Yang
kalian perlu lakukan hanyalah lari sekuat mungkin dan tetap waspada.” Tukas
pria tua di depanku. Aku tersentak.
“Maaf?”
“Kau
dan Opsir Dalton pergi sejauh mungkin dari sini… dan jangan pernah kembali.”
Jelasnya sabar. Ia kembali berbalik menuju satu-satunya pintu di ruangan itu. Dengan
cepat, aku mencegatnya dan menatap tepat di manik matanya.
“Anda
tidak bisa begitu saja…”
“Jelas
aku bisa.”
“Tidak!
Saya tidak mungkin meninggalkan Anda dan yang lainnya di sini.” Suaraku mulai
serak. Tenggorokanku tersumbat.
Pria
tua itu menghela napas. Dikuncinya manikku agar tetap menatapnya. “Juliette,
dengar,” telapak tangannya yang kasar mengelus lembut pipiku. “Kita berada
dalam misi.”
“Ya,
dan aku tidak akan pergi dan membiarkanmu mati.”
“Lebih baik kehilangan
satu nyawa daripada satu milyar penduduk lainnya.” Kepalaku menggeleng. Air
mataku menggenang di pelupuk. “Apa pun yang terjadi… aku tetap bangga padamu
dan bahagia melihatmu tumbuh.” Tutupnya. Aku terpaku dan menunduk.
Digedikkannya bahu agar
aku kembali berjalan tegap sebagaimana mestinya. Aku tidak punya pilihan lain
selain mengikuti apa yang telah diaturnya. Ia tahu apa yang akan terjadi
selanjutnya. Sebagai imbalan atas pengorbanannya, aku harus menuntaskan misi
ini.
“Datanya sudah ada
padaku. Sekarang, simpanlah” Ujar Dalton seraya menyerahkan sekeping disket saat
aku tengah bersiap-siap. Kuputar mataku menatapnya dan mengambil disket itu
darinya, lalu kuletakkan dengan baik di mantel dalam. Setelahnya, kuikat tali
sepatu botku erat.
“Tegarlah. Kita pasti
berhasil.” Kembali kuputar mataku. Dalton terlihat berbeda. Ia tidak lagi teman
SMA-ku yang selalu saja berkelahi dengan murid-murid sekolah lain atau terlihat
seperti prajurit kacangan yang kerjanya hanya menggoda perempuan saat di kantin
barak pelatihan. Sekarang, tepat di sampingku, Romeo Dalton menjelma menjadi
pelindungku. Bagi semua prajurit yang tersisa, aku adalah sebuah pedang yang
harus tetap terhunus ke depan bagaimana pun caranya. Walaupun Dalton tidak
mengatakan bahwa ia bersedia menjadi tameng, aku tahu ia sudah memulainya
dengan baik.
Mereka semua terluka.
Begitu juga aku. Tapi kami di sini karena misi. Dan sesegera mungkin pasti
kuakhiri. Maka, kami bersepuluh mulai bergerak turun dari persembunyian.
Ternyata sedari tadi kami berada dalam pohon ek raksasa yang disulap bagian
dalamnya menjadi sebuah ruangan darurat.
“Semuanya bersiap!”
seketika, semua senapan berbunyi “klik”, siap untuk digunakan. Delapan orang
lainnya sudah berada di atas tanah dan berpencar menurut formasi yang sudah
dibagi. Saat aku dan Dalton menjejak tanah, secepat angin berhembus, secepat
itu pula kami menghilang di balik pohon yang bergerombol.
***
Aku berlutut di hadapan sebuah batu marmer. Putih
dan dingin. Padahal saat itu adalah minggu musim panas yang pertama. Kusentuh
nisan itu perlahan, menyusuri nama yang terpahat di atasnya. Seorang lagi
mengikutiku. Bersimpuh dan mengusap wajah.
“Misi
kita berhasil.” Tukasku. Pria di sampingku hanya diam.
“Dia benar-benar bangga
telah melakukannya.” Kataku lagi. “Hah, si bodoh itu…”
Kata-kataku menggantung
karena mataku mulai memanas. Terhenti di antara buaian angin.
“Dan aku juga bangga
melihatnya berjuang demi negara.”
“Dia tidak hanya berjuang demi negara, Sir.”
“Aku tahu.”
Ada jeda yang lama. Di
antara jeda yang panjang, aku menghela napas berat dan memutar ulang apa yang
telah di kualami selama bertahun-tahun dengan Juliette Smith. Gadis itu adalah
yang termuda di SMA. Sangat cantik dan kuat. Juara nasional dan internasional karate
dan aikido lima tahun berturut-turut. Rambut cokelatnya yang panjang sangat
indah dan selalu dibiarkannya tergerai. Tidak ada satu pun yang berani
mendekatinya di sekolah kecuali aku, Romeo Dalton, yang selalu mengerjainya di
setiap saat yang kupunya. Aku tahu tentang statusnya yang notabene adalah anak
jenderal ternama di Amerika, dan aku tahu hal itu mau tidak mau menjadi beban
baginya karena Jenderal John Smith sangat menginginkan putrinya mengikuti
jejaknya di dunia kemiliteran.
Itu jugalah yang
membuat pribadinya keras, serius, dan bahkan tak bisa pergi ke pesta prom
karena ia berhasil lulus lebih awal dan masuk ke akademi militer satu tahun
lebih cepat dariku. Tapi aku berhasil menyusulnya. Kami berhasil dipertemukan
pada satu misi yang sama dan membahayakan nyawa. Maka, ketika aku berkesempatan
untuk menjadi pelindung baginya, aku bahagia, karena aku yakin dia pasti
selamat dan aman bersamaku.
Tapi yang terjadi
memang bukan yang kuinginkan. Setelah mendengar serentetan peluru ditembakkan,
tekadnya goyah. Bisa kudengar sampai sekarang permohonannya untuk meneruskan
misi itu ke tanganku. Dia? Hah, si bodoh itu tentu saja dengan senyum manisnya
berkata bahwa ia akan kembali ke medan pertempuran membantu ayahnya.
“Aku sangat kaget saat
tanganku ditarik paksa olehnya dan kau menurunkan pengait untuk memaksaku naik
ke helikopter.” Ujar Jenderal Smith berat. Matanya sendu.
“Itu idenya. Si Bodoh
itu sudah menyiapkan strategi spontan. Aku juga kaget kenapa aku mau saja
mengikuti keinginannya.”
Jenderal Smith tertawa
kecil.
“Apa?” tanyaku.
“Kau sebenarnya tau
alasannya anak muda.” Katanya. Aku diam saja karena mengerti apa maksudnya.
Setelah menepuk bahuku, pria tua itu berlalu.
Ya, aku tahu mengapa
aku mau saja mengikuti permintaannya. Mengapa aku masih saja menggodanya walau
rambut brunette indahnya terpangkas
habis. Mengapa aku ingin dan bahagia ketika melindunginya. Dan mengapa namanya
masih terpatri di benakku walau dia telah tiada.
“Tunggu aku di sana,
Juliette.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar