Hola!
Balik lagi sama author :D di post kali ini, Tari mau ngebahas sesuatu
yang, hmm, tiba-tiba aja menghujani pikiranku dan minta sesegera mungkin
ditumpahkan ke blog. Apa itu?
Jadi,
ceritanya, beberapa hari yang lalu aku nonton film “5 cm.” Ya, ya, aku tahu aku
telat (as usual-_-). Sadar kok aku,
ini so last year banget. Dan kemarin,
aku nonton ulang untuk kedua kalinya. Tapi buat kalian-kalian yang belum
nonton, 5cm. adalah salah satu film terkeren karya anak bangsa yang wajib masuk
di dalam list film-wajib-nonton kamu.
Nggak cuma jual cerita, 5cm. ngajarin kita banyak banget hal dari macam-macam
tingkatan. Donny Dhirgantoro, sebagai penulis naskah bekerja sama dengan Rizal Mantovani selaku sutradara memberi fokus pada di persahabatan. Tapi nggak seperti film-film lain,
5cm. seakan menampar kembali remaja masa kini tentang pentingnya menghargai
negeri sendiri dan mencintainya dengan cara kita sendiri. Nggak harus daki
Gunung Mahameru juga kok kayak Genta, Zafran, Riani, Arian, Ian, dan Dinda-_-
itu ekstrem banget. Tapi kalau kalian emang hobi mendaki, silahkan saja.
Sekalian paskan timing-nya supaya sampai
di puncak Mahameru tepat tanggal 17 Agustus. Jadi kalian bisa menikmati
matahari pertama saat ulang tahun Ibu Pertiwi, plus kibarin bendera merah-putih
di atasnya—biar gereget :p tapi, katanya sih, novelnya nggak sebagus filmnya. Mungkin kerasa lebih real di film kali, ya karena ngelihat view-nya langsung. Apalagi didukung dengan sound-nya yang berhasil bikin aku merinding.
Aku
nggak akan kasih spoiler
banyak-banyak soal film 5cm. karena aku juga nggak suka di-spoiler-in hehe. Mungkin aku bakal ngasih review amatir sedikit soal film ini karena mengispirasi aku untuk
semangat ngeraih mimpi. Nah, cerita bermula dari 5 orang sahabat yang sudah
bersama hingga 10 tahun. Genta, daydreamer
and great achiever; Zafran,
Khalil Gibran masa kini yang jatuh hati pada Dinda, Adik Arial; Riani,
satu-satunya member cewek yang doyan
minta kuah ke Ian kalau lagi makan mie instan; Arial, cowok
macho-doyan-fitness-tapi-takut-sama-cewek; Ian, gendut-unyu yang berjuang
selesain skripsinya (dia kuliah di UI bro!!); dan Dinda, adik Arial yang kuliah
di Fakultas Ekonomi yang super datar.
Mereka
memutuskan untuk berpisah selama 3 bulan, mencoba keluar dari zona nyaman
dengan tujuan fokus pada diri masing-masing—meraih impian yang belum sempat
dicapai. Mereka berlima dilarang berkontak via apapun. Genta berencana untuk
mengumpulkan kembali dan merahasiakan lokasi reuni hingga tanggal 7 Agustus,
dimana mereka nantinya akan reunited
di Stasiun Senen dengan tujuan Jakarta-Malang. Sisanya? Nonton sendiri :p
mungkin udah bisa ditebak dari posternya, cuma apa yang 5cm. suguhkan
benar-benar fantastis. Mungkin kalau aku menontonnya di kursi bioskop,
jantungku bakal copot dan lebih “kerasa” feeling-nya.
Sayang, aku udah telat, hehe.
Selanjutnya,
aku pengen ngebahas sesuatu yang dinamakan hobi atau minat. Ceritanya, aku
punya teman di kelas, sebut saja namanya Guspita—sebenarnya itu nama aslinya-_-
dia ini keren. Intelek, berkelas, dan muslimah sejati. Posisinya sebagai juara
1 di kelasku nggak tergoyahkan dua tahun berturut-turut (karena kelasku tidak
di-rolling, jadi kami semua sekelas
selama dua tahun). Dia juga turut serta dalam lomba Olimpiade Ekonomi tingkat
nasional di UGM! Fiuhh *longgarin kerah baju* emang bro, dia dahsyat banget. Nah, dia ini, bacaannya juga paten.
Kebanyakan biografi, permasalahan dunia tentang iluminati dan freemason, petuah islam karya Felix
Siauw tentang perpacaran, serta penyerangan di Afghanistan juga dilahap.
Beberapa temanku yang terkena “virus”-nya berhasil menyesuaikan diri dengan
baik. Mampu mengikuti gerak positifnya. Jadi, pikirku, kenapa aku nggak iutan
mencoba buku-buku yang serupa. Maka bacalah aku, dan berkerutlah keningku.
Nggak, nggak, bukannya aku cewek-bego-yang-nggak-mau-nyentuh-buku-“keren”,
tapi…rasanya itu bukan aku.
Nggak
ngerti, ya? Hm, singkat dan kasarnya, buku-buku sejenis itu, bukan mainan-ku. Yang kusuka adalah sastra
fiksi yang nggak lain berupa cerpen dan novel. Dan aku menyadari, mungkin bagus
mengikuti perkembangan fakta yang terjadi di sekeliling kita melalui buku-buku
yang kusebutkan di atas. Hanya saja, tidak semua orang berhasil nyaman dengan
hal itu. Misalnya saja, kau berteman pada A yang menawarkan café oke langganannya. Tapi saat kalian
coba makanannya, tidak sesuai dengan lidahmu. Pasti ujung-ujungnya kalian
kembali kan, ke café favorit kalian?
Nah, itu juga yang kurasakan.
Minat dan hobi
itu relatif, murni, alami, dan mengalir. Banyak orang yang bingung minatnya
dimana, hobinya apa? Lalu memaksa sesuatu untuk masuk ke dalam diri mereka. Itu
jelas saja salah—kalau menurutku sih. Intinya adalah pengalaman dan berani
membunuh gengsi untuk mencoba hal baru yang ingin kalian ketahui. Kalau kalian
selalu terkungkung rasa takut, selamanya kalian tidak akan menemukan hal yang
kalian cari. Aku adalah orang yang percaya bahwa semua hal yang terjadi di
dunia ini membutuhkan proses, tidak ada yang instan. Bahkan sekalinya mie
instan pun harus membutuhkan proses, kan? Dijerang airnya, dikeluarin bumbunya,
disaring airnya, diaduk, baru deh jadi. Ketika kalian sudah melakukan, melihat,
merasakan hal-hal baru, otomatis otak kalian akan menyirkulasi sel-sel yang
“nganggur” dan mengisinya dengan pemikiran-pemikiran kreatif. Otomatis, kalian
akan mendapatkan ketertarikan yang nantinya bermuara pada misi dan visi. Dengan
begitu, serangkaian proses yang telah kalian jalani akan berbuah minat dan hobi
karena kalian lakukan secara kontinu dan berasal dari hati. Mudah? Ya nggak
lah! Makanya kalau mau tahu, buat yang masih malu, coba lakukan hal-hal
sederhana dulu. Nggak apa-apa kecil, asal akarnya kuat dan ada progres.
Begitulah kira-kira.
Dan yang
terakhir, aku ingin membahas apa yang sedang menimpaku akhir-akhir ini.
Kejadiannya hari Rabu kemarin, dan berhasil membuat duniaku jungkir-balik dalam
sekejap—untungnya sekejap aja, dua harian gitu. Jadi, si pacar lagi terkena
musibah, dan aku shock luar biasa.
Duh, jangan sampai lagi deh itu kejadian ya Allah. Dan, dua hari itu, aku
uring-uringan, tensi tiba-tiba menukik vertikal, dan semua orang benar-benar
membuatku kesal kala itu—padahal mereka nggak ngapa-ngapain-_- permasalahan
yang ingin kubahas adalah perihal komparasi personalitas kita yang dulu dan
sekarang. Katakanlah ada seseorang yang dulunya dikenal sangat baik, penyayang,
santun, nakal tapi tidak berandal, dan tidak terlalu tertinggal inteleknya.
Seketika saja, semua itu berubah seiring bergandengnya ia dengan waktu. Imej
baik itu luntur, memudar, hingga hilang sama sekali. Aku menyayangkan hal itu.
Sangat menyayangkan. Lantas aku berpikir, bukankah sangat tidak bagus jika kita
meratap pada apa yang sudah jauh tertinggal di belakang? Bukankah lebih mulia
jika kita memikirkan perbaikan yang mampu dilakukan untuk masa mendatang? Dan
ruangan yang kelam pun pasti akan disinari mentari jika kita menyibak gordein
yang menghalangi. Harapanku selalu sama setiap harinya…hh, ntahlah, kalau
membicarakan hal itu rasanya masih nyesek. Ini aja nggak tahu mau nulis apalagi
tiba-tiba. Hh, ya sudahlah, karena semangat mulai mengendur, kusudahi saja sesi
kali ini.
Oh, ya! Aku baru
ingat. Hampir kelupaan. Pengen ngumumin sesuatu; mulai bulan depan aku bakal
jarang banget nge-post karena akan
disibukkan dengan berbagai macam ujian. Tanggal 17 Februari ini aja aku udah
mulai Try Out se-Kota Batam-_- bulan
depan TO lagi, lanjut UAS, terus Ujian Praktek. Doakan aku supaya bisa
melewatinya dengan sukses, amin. See ya,
fellas!
A proud weirdo,
Author

Tidak ada komentar:
Posting Komentar