Jumat, 07 Februari 2014

Think About It


                Hola! Balik lagi sama author :D di post kali ini, Tari mau ngebahas sesuatu yang, hmm, tiba-tiba aja menghujani pikiranku dan minta sesegera mungkin ditumpahkan ke blog.  Apa itu?


               Jadi, ceritanya, beberapa hari yang lalu aku nonton film “5 cm.” Ya, ya, aku tahu aku telat (as usual-_-). Sadar kok aku, ini so last year banget. Dan kemarin, aku nonton ulang untuk kedua kalinya. Tapi buat kalian-kalian yang belum nonton, 5cm. adalah salah satu film terkeren karya anak bangsa yang wajib masuk di dalam list film-wajib-nonton kamu. Nggak cuma jual cerita, 5cm. ngajarin kita banyak banget hal dari macam-macam tingkatan. Donny Dhirgantoro, sebagai penulis naskah bekerja sama dengan Rizal Mantovani selaku sutradara memberi fokus pada di persahabatan. Tapi nggak seperti film-film lain, 5cm. seakan menampar kembali remaja masa kini tentang pentingnya menghargai negeri sendiri dan mencintainya dengan cara kita sendiri. Nggak harus daki Gunung Mahameru juga kok kayak Genta, Zafran, Riani, Arian, Ian, dan Dinda-_- itu ekstrem banget. Tapi kalau kalian emang hobi mendaki, silahkan saja. Sekalian paskan timing-nya supaya sampai di puncak Mahameru tepat tanggal 17 Agustus. Jadi kalian bisa menikmati matahari pertama saat ulang tahun Ibu Pertiwi, plus kibarin bendera merah-putih di atasnya—biar gereget :p tapi, katanya sih, novelnya nggak sebagus filmnya. Mungkin kerasa lebih real di film kali, ya karena ngelihat view-nya langsung. Apalagi didukung dengan sound-nya yang berhasil bikin aku merinding.
  
              Aku nggak akan kasih spoiler banyak-banyak soal film 5cm. karena aku juga nggak suka di-spoiler­-in hehe. Mungkin aku bakal ngasih review amatir sedikit soal film ini karena mengispirasi aku untuk semangat ngeraih mimpi. Nah, cerita bermula dari 5 orang sahabat yang sudah bersama hingga 10 tahun. Genta, daydreamer and great achiever; Zafran, Khalil Gibran masa kini yang jatuh hati pada Dinda, Adik Arial; Riani, satu-satunya member cewek yang doyan minta kuah ke Ian kalau lagi makan mie instan; Arial, cowok macho-doyan-fitness-tapi-takut-sama-cewek; Ian, gendut-unyu yang berjuang selesain skripsinya (dia kuliah di UI bro!!); dan Dinda, adik Arial yang kuliah di Fakultas Ekonomi yang super datar.

                Mereka memutuskan untuk berpisah selama 3 bulan, mencoba keluar dari zona nyaman dengan tujuan fokus pada diri masing-masing—meraih impian yang belum sempat dicapai. Mereka berlima dilarang berkontak via apapun. Genta berencana untuk mengumpulkan kembali dan merahasiakan lokasi reuni hingga tanggal 7 Agustus, dimana mereka nantinya akan reunited di Stasiun Senen dengan tujuan Jakarta-Malang. Sisanya? Nonton sendiri :p mungkin udah bisa ditebak dari posternya, cuma apa yang 5cm. suguhkan benar-benar fantastis. Mungkin kalau aku menontonnya di kursi bioskop, jantungku bakal copot dan lebih “kerasa” feeling-nya. Sayang, aku udah telat, hehe.

               Selanjutnya, aku pengen ngebahas sesuatu yang dinamakan hobi atau minat. Ceritanya, aku punya teman di kelas, sebut saja namanya Guspita—sebenarnya itu nama aslinya-_- dia ini keren. Intelek, berkelas, dan muslimah sejati. Posisinya sebagai juara 1 di kelasku nggak tergoyahkan dua tahun berturut-turut (karena kelasku tidak di-rolling, jadi kami semua sekelas selama dua tahun). Dia juga turut serta dalam lomba Olimpiade Ekonomi tingkat nasional di UGM! Fiuhh *longgarin kerah baju* emang bro, dia dahsyat banget. Nah, dia ini, bacaannya juga paten. Kebanyakan biografi, permasalahan dunia tentang iluminati dan freemason, petuah islam karya Felix Siauw tentang perpacaran, serta penyerangan di Afghanistan juga dilahap. Beberapa temanku yang terkena “virus”-nya berhasil menyesuaikan diri dengan baik. Mampu mengikuti gerak positifnya. Jadi, pikirku, kenapa aku nggak iutan mencoba buku-buku yang serupa. Maka bacalah aku, dan berkerutlah keningku. Nggak, nggak, bukannya aku cewek-bego-yang-nggak-mau-nyentuh-buku-“keren”, tapi…rasanya itu bukan aku.

               Nggak ngerti, ya? Hm, singkat dan kasarnya, buku-buku sejenis itu, bukan mainan-ku. Yang kusuka adalah sastra fiksi yang nggak lain berupa cerpen dan novel. Dan aku menyadari, mungkin bagus mengikuti perkembangan fakta yang terjadi di sekeliling kita melalui buku-buku yang kusebutkan di atas. Hanya saja, tidak semua orang berhasil nyaman dengan hal itu. Misalnya saja, kau berteman pada A yang menawarkan café oke langganannya. Tapi saat kalian coba makanannya, tidak sesuai dengan lidahmu. Pasti ujung-ujungnya kalian kembali kan, ke café favorit kalian? Nah, itu juga yang kurasakan.

Minat dan hobi itu relatif, murni, alami, dan mengalir. Banyak orang yang bingung minatnya dimana, hobinya apa? Lalu memaksa sesuatu untuk masuk ke dalam diri mereka. Itu jelas saja salah—kalau menurutku sih. Intinya adalah pengalaman dan berani membunuh gengsi untuk mencoba hal baru yang ingin kalian ketahui. Kalau kalian selalu terkungkung rasa takut, selamanya kalian tidak akan menemukan hal yang kalian cari. Aku adalah orang yang percaya bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini membutuhkan proses, tidak ada yang instan. Bahkan sekalinya mie instan pun harus membutuhkan proses, kan? Dijerang airnya, dikeluarin bumbunya, disaring airnya, diaduk, baru deh jadi. Ketika kalian sudah melakukan, melihat, merasakan hal-hal baru, otomatis otak kalian akan menyirkulasi sel-sel yang “nganggur” dan mengisinya dengan pemikiran-pemikiran kreatif. Otomatis, kalian akan mendapatkan ketertarikan yang nantinya bermuara pada misi dan visi. Dengan begitu, serangkaian proses yang telah kalian jalani akan berbuah minat dan hobi karena kalian lakukan secara kontinu dan berasal dari hati. Mudah? Ya nggak lah! Makanya kalau mau tahu, buat yang masih malu, coba lakukan hal-hal sederhana dulu. Nggak apa-apa kecil, asal akarnya kuat dan ada progres. Begitulah kira-kira.

Dan yang terakhir, aku ingin membahas apa yang sedang menimpaku akhir-akhir ini. Kejadiannya hari Rabu kemarin, dan berhasil membuat duniaku jungkir-balik dalam sekejap—untungnya sekejap aja, dua harian gitu. Jadi, si pacar lagi terkena musibah, dan aku shock luar biasa. Duh, jangan sampai lagi deh itu kejadian ya Allah. Dan, dua hari itu, aku uring-uringan, tensi tiba-tiba menukik vertikal, dan semua orang benar-benar membuatku kesal kala itu—padahal mereka nggak ngapa-ngapain-_- permasalahan yang ingin kubahas adalah perihal komparasi personalitas kita yang dulu dan sekarang. Katakanlah ada seseorang yang dulunya dikenal sangat baik, penyayang, santun, nakal tapi tidak berandal, dan tidak terlalu tertinggal inteleknya. Seketika saja, semua itu berubah seiring bergandengnya ia dengan waktu. Imej baik itu luntur, memudar, hingga hilang sama sekali. Aku menyayangkan hal itu. Sangat menyayangkan. Lantas aku berpikir, bukankah sangat tidak bagus jika kita meratap pada apa yang sudah jauh tertinggal di belakang? Bukankah lebih mulia jika kita memikirkan perbaikan yang mampu dilakukan untuk masa mendatang? Dan ruangan yang kelam pun pasti akan disinari mentari jika kita menyibak gordein yang menghalangi. Harapanku selalu sama setiap harinya…hh, ntahlah, kalau membicarakan hal itu rasanya masih nyesek. Ini aja nggak tahu mau nulis apalagi tiba-tiba. Hh, ya sudahlah, karena semangat mulai mengendur, kusudahi saja sesi kali ini.

Oh, ya! Aku baru ingat. Hampir kelupaan. Pengen ngumumin sesuatu; mulai bulan depan aku bakal jarang banget nge-post karena akan disibukkan dengan berbagai macam ujian. Tanggal 17 Februari ini aja aku udah mulai Try Out se-Kota Batam-_- bulan depan TO lagi, lanjut UAS, terus Ujian Praktek. Doakan aku supaya bisa melewatinya dengan sukses, amin. See ya, fellas!

A proud weirdo,
Author 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar