Rabu, 29 Januari 2014

Passion


Writing is a passion for me. Dan aku juga suka banget nonton film dan baca buku. Jadi, ceritanya, aku kemarin nonton film-nya Hilary Duff—Beauty and The Briefcase, which was totally gawjess, because it reminded me with my old dream, to be a bestseller writer or freelance-reporter in magazine. Karena ceritanya tentang seseorang yang ingin bekerja di majalah Cosmo, rasanya langsung pas aja waktu nonton. Karena sejujurnya aku adalah freelancer di sebuah koran lokal, and being a writer is pretty fun. You can write a topic and put your own thoughts on it—in a smart way, of course.

Well, I won’t write a review ‘bout that one, tapi aku ingin kembali menjelajah ruang waktu mengenai apa saja yang udah aku lewati selama 17 tahun terakhir. Dan syukur, Alhamdulillah, aku adalah jenis orang yang berani untuk men-challenge diri aku. Aku selalu tahu apa yang kumau. Dan aku bisa menentukan arah apa yang akan aku tuju untuk ke depannya. Yah, tentu nggak semulus itu. Tapi aku cukup pede untuk survive di tempat lain, I hope so, lol.

Ngomong-ngomong survive, sebentar lagi aku bakal menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. So, I’ve to prepare everything for my national examination. Yes, everything. Pelajaran yang di UN-kan, percaya diri, kesiapan mental, fokus, dan pastinya memperbaiki iman. Haha, yang terakhir harusnya nggak usah disebutkan, ya. Karena kelihatannya beribadah hanya diperlukan pada saat-saat penting. Mostly, memang manusia seperti itu, dan aku pribadi juga kadang demikian. Tak diragukan. Yah, aku nggak meratakan semua seperti itu, sih. Hanya saja kan, manusia kadang suka lupa dengan siapa yang sudah membuatnya bahagia dan sukses. Bukan manusia-manusia yang terkait dengan kebahagian yang di dapat, tapi Tuhan lah yang patut diucapkan terima kasih, sebuah rasa syukur. Oke, aku jadi kelihatan kayak ustadzah sekarang-_-

Kembali ke menjelajah waktu dan survive. Uhm, aku ini bisa dikatakan a dreamer,the good one, haha. Sejak kecil, aku nggak pernah bercita-cita jadi dokter, guru, polisi, pilot, atau hal-hal general seperti itu. Aku bercita-cita jadi peneliti bintang di Bosscha, Bandung. Cool, eh? Hahaha, pardon my narcissism :p hal itu kudapat dari menonton film Petualangan Sherina. Remember? Saat Sherina bersembunyi di Bosscha, dan terdapat teleskop raksasa di sana. It took my breath away, rasanya pasti keren sekali kalau aku menggunakannya untuk melihat benda langit. And, yeah, I got a serious-curious illness type, haha. Jadi kupikir, untuk mendapatkan akses ke Bosscha, aku harus menjadi seorang peneliti bintang atau angkasa. Bayangkan, seorang anak berumur 6 tahun bisa berpikir sejauh itu. Kurasa aku mengalami penuaan dini saat itu-_- atau kecerdasan dini? :p haha, lagi-lagi narsis, maaf-maaf hehe.


Aku terus menyimpan mimpi itu hingga aku tamat SD. Saat memasuki SMP, ibuku memberi pengertian bahwa menjadi peneliti bintang tidaklah mudah. Setelah kupikir-pikir, mungkin perkataan ibuku ada benarnya. Namun, tetap, mimpi itu masih ada. Hanya, kusimpan baik- baik di dasar hati. Siapa tahu aku berkesempatan mengunjungi Bandung dan menginjakkan kakiku di Bosscha, amin!!

Saat SD adalah saat-saatnya aku menggilai komik. Aku mengoleksi komik Naruto dari volume 8-40an beserta komik genre romance atau fights. Tapi semua komik itu kandas begitu saja karena dibuang oleh ibuku tanpa sengaja-_- ya, sangat disayangkan. Kalau dihitung-hitung aku sudah mengeluarkan uang ratusan ribu untuk mengoleksinya haha. Kemudian, aku mulai beradaptasi dengan gambar-gambar itu. Berhubung aku senang menggambar sejak kelas 3 SD dan berlatih cukup keras untuk memperbaiki “kualitas”-nya, jadi aku mencoba untuk menggambar manga atau seni gambar ala komik Jepang. Dari sana, aku menemukan passion baruku; menggambar komik. Aku juga cukup pede untuk urusan satu ini, haha. Aku berusaha untuk mengembangkan hobiku. Ada beberapa teknik dalam penggambarannya yang tak bisa kuterapkan karena keterbatasan alat yang tidak beredar di Indonesia. It’s a lil’ bit hard, but I’ve tried my best so far. Alhamdulillah, hobiku ini masih kutekuni sampai sekarang :) aku pernah mencoba untuk membuat satu komik, sudah setengah jalan, namun berhenti karena tidak sempat meneruskannya. Akhirnya aku beralih dari komikus menjadi mangaka. Hehe, sama saja sih sebenarnya-_- hanya saja, aku menggambar just for fun, bukan untuk mengejar target komik seperti dulu.

Lulus dari SD, aku mengikuti ekskul basket saat kelas 1 SMP bareng Ryry dan Amalia Malik—one of my best buddy, dia sekarang masih bersekolah di pesantren Temenggung. Aku pun lantas bercita-cita menjadi pemain basket profesional. Nggak tinggi-tinggi kok sampai nasional, tingkat regional pun udah keren banget. Tapi, sayangnya, ayahanda melarang, huhu. Katanya ekskul basket bikin aku nggak fokus belajar. Jadi, saat akhir semester 1, aku resmi keluar dari ekskul itu. Dan kembali, mimpiku kandas, haha. Namun hal itu nggak bikin aku berhenti main basket. Still, I play it with my friends, and chill every moment with them.

I had a best time ever in Junior High. Karena aku bersekolah di SMP berkualitas RSBI dan masuk ke kelas khusus RSBI—yang notabene mentereng abis saat itu, jadi keren banget rasanya. Soalnya cuma 27 orang di kelasku. Kekeluargaannya kerasa banget. Aku masih ingat gimana kami selalu nunggu-nunggu dengan semangat tiap hari Sabtu, karena kami pasti goro bersihin kelas. Bersihin kelas, means mutar lagu favorit di DVD. Yeup, kelas khusus RSBI di fasilitasi TV, DVD, loker, dan AC di dalam kelas. Jadi berasa eksklusif gitu, haha. Kalau udah mutar lagu, pasti makin semangat bersihin kelasnya. Nanti, selesai goro, kami patungan beli aqua kotak buat diminum bareng-bareng. Keren abis. Duh, aku jadi pengen balik SMP lagi nih, haha. Belum lagi kalau sebelum pemantapan saat kelas 3, kami makan dan sharing bekal di samping kelas. Duduk berjajar ramai-ramai, mau cewek atau cowok pada gabung. Plusss, kalau ada yang bawa kaset bajakan yang seru, pasti diputar di kelas kalau kebetulan jam pelajaran lagi kosong. Merdeka banget, tuh. Hh, junior high~

Sebelum aku menginjak kelas 3 SMP, tepatnya kelas 2, salah satu temanku menyuruhku beralih dari mangaka dengan alasan “Menggambar benda hidup kan haram, Tar. Kenapa nggak coba jadi penulis?” Haha, IIm Fatimah namanya. Dia juga yang memperkenalkanku pada sebuah novel. Rasa ingin tahuku terusik, jadi aku mencoba untuk “menyelami”-nya. Semakin lama, tanpa kusadari, aku sudah jatuh terlalu dalam. Asik, haha. Jadilah aku penggemar novel dan berburu novel bersama  Ryry dan Amel. Nah, dari sinilah ketertarikanku dalam dunia menulis dimulai. Jeng, jengg! Aku merasa nyaman dan berlatih di setiap waktu yang kupunya. Ternyata lebih menyenangkan menuangkan perasaanku lewat tulisan, dan aku menyadari bahwa aku sangat baik mengungkapkan apapun lewat tulisan. Ditambah lagi sifatku yang hopeless-romantic semakin memudahkanku untuk menulis cerita cinta yang menye-menye. Haha, kapan-kapan aku post cerpenku ya ;)


Naik ke kelas berikutnya, saat aku kelas 3 SMP, ntah dari mana datangnya, benakku menangkap ide untuk mendirikan pondasi mimpiku berikutnya; menjadi owner café. Dan café-nya akan kuberi nama STALLION CAFÉ, sesuai dengan nama kelasku waktu itu. FYI, STALLION adalah singkatan dari Straight To an Amazing Loyal and Liberty Nine One. Haha, rada maksa ya? Maklum, namanya juga anak SMP :p aku berpikir untuk menjadi seorang entrepreneur saat itu. Akan tetapi, setelah aku mengenal pelajaran Ekonomi di SMA, aku mencoba mendatangi guru ekonomiku dan berkonsultasi mengenai rencanaku. Aku bertanya mengenai posibilitas usahaku jika aku menjadi pegawai di suatu perusahaan sekaligus menjadi owner sebuah café. Beliau mengatakan akan sulit mengendalikan dua pekerjaan seperti itu. Kalaupun tetap ingin, aku harus memberi seseorang kewenangan untuk menjalankan roda usaha—which means, orang itu adalah sosok yang benar-benar kupercaya, sedangkan aku nanti hanya menerima laporannya saja. Hmm, aku kembali berpikir matang tentang rencana yang sudah kususun dulu. Mungkin aku harus struggle banget, karena mengumpulkan modal dan semuanya tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Jadi, sama seperti mimpi-mimpiku yang lain, aku simpan keinginan itu di dasar hati. Sembari berdo’a semoga semua yang kuinginkan mampu kucapai dan menemukan jalan yang dianugerahi olehNya, amin :)

And now, aku akan dihadapi oleh situasi yang lebih berat dibanding sebelumnya. Karena tentu saja yang akan kuambil adalah sebuah langkah besar yang akan menentukan masa depanku. Jika saat aku berumur 5 tahun, aku sangat ingin sekolah, ayah-ibuku bisa mencarikanku SD di kotaku. Saat SD, aku mendaftar sendiri SMP bertaraf RSBI di kotaku dengan teman-teman. Saat SMP, aku mati-matian berusaha masuk ke SMA yang kuinginkan, dan akhirnya aku mendaftar pula sendiri tanpa orang tua dengan teman-temanku yang lain. Sedangkan kuliah? Ya, aku tahu aku bisa mendaftar sendiri tentunya. Namun  aku bisa tenang dulu karena semua sekolah dasar dan menengahku ada di satu kota yang sama dan bisa kuraih tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Terkadang aku worry untuk hal-hal tertentu. You know, kalau kuliah di luar kota, tentunya banyak yang harus dilalui. Memulai semuanya dari nol. Benar-benar NOL, astaga, aku baru sadar sebesar apa masalahku yang harus kuhadapi kalau aku berhasil lolos SNMPTN nanti, hahaha.  Tapi aku nggak bisa mundur dan aku nggak boleh nyerah. Yang kubutuhkan adalah kebulatan tekad.

Hari ini udah H-75 Ujian Nasional. Hari-hari dengan cepat banget berlalu. Makin deg-degan pastinya. Fuhh, ya Allah, tiba-tiba nervous hahaha. Yah, semoga semuanya dilancarkan, ya. Amin :) dengan demikian, sekian cerita panjang dari Tari, The Daydreamer yang doyan banget ngayal plus lasak segalaksi. Terima kasih sudah sudi membaca. Masih ditunggu komen-komennya :D let’s share!

Loves
Author 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar