Minggu, 09 Februari 2014

Movie Seeker, Cheated On, and Cases



Yo, folks! Again, with me, hehe. Kali ini aku akan membahas sesuatu yang fragile, soal cinta, hati, dan tetek-bengeknya. But, aku mau share beberapa hal tentang film yang aku (lagi-lagi) tonton dua kali, karena menurutku bagus. Sebenarnya aku nggak suka nonton film atau baca buku berulang-ulang. Tapi karena aku orangnya cepet bosanan kalau nggak ngapa-ngapain, ya udah, jadi terpaksa betah melongo di depan monitor laptop, nonton film yang sama untuk yang ke sekian kalinya.


                Yap, kali ini film Friends With Benefits-nya Oom Justin Timberlake *yelling* dan Tante Mila Kunis.  Film yang disutradarai oleh Will Gluck ini mengisahkan tentang sepasang manusia yang bertemu karena Jamie (Mila Kunis) menawarkan pekerjaan apada Dylan (Justin Timberlake) yang sebelumnya bekerja di sebuah periklanan di blog di L.A., menjadi new art director di majalah terkenal bernama GQ Magazine di New York. Maka, dimulailah sebuah pertemuan dan perkenalan unik yang membawa mereka pada situasi yang lebih intim. Yah, sebenarnya sih, bisa dikatakan film ini bergenre “Dewasa”, tapi kalau kalian cukup cerdas untuk mengambil positive and fun side daripada terbawa arus porn and turn on side, we can be friends lol. Aku senang jalan ceritanya, mengalir, natural, dan yah, begitu saja. Seperti melihat kejadian yang benar-benar manusiawi dan seperti tidak ada naskah yang mereka baca sebelumnya. Sebagai salah seorang sutradara (ciee!), aku bisa lihat dan merasakannya—yah, walaupun masih amatir sih akunya-_- Friends With Benefits berhasil menunjukkan benefits tanpa terkesan asal show off poin yang ingin ditunjukkan pada penonton. Misdireksi, miskomunikasi, dan beberapa lelucon renyah juga berhasil dilakoni Mila dengan sangat baik. Potongan scene dan music yang di input pada film berhasil membuatku betah dan keningku nggak berkerut selama nonton filmnya. Pfft, lama-lama aku beneran jadi movie seeker nih-_-

                Ngomong-ngomong soal baik, ternyata, dari banyaknya cowok brengsek di dunia ini yang menjadi mayoritas dominan entah sejak kapan, masih ada juga cowok baik. Beberapa waktu yang lalu, saat mencari foto-foto Ariana Grande di Google (habis nonton Sam and Cat soalnya hehe), aku menemukan capture-an tweet Jai Brooks yang berisi curahan hatinya, SEMUA curahan hatinya tentang bagaimana pedihnya ditikung oleh Nathan Sykes, partner duet Ariana pada lagu Almost Is Never Enough. Biasaa, cinlok. Berikut cuplikannya (asik!);


                Nah, ada yang membuatku sedikit terusik. Terutama di bagian “I have learnt how to find happiness on my own without relying on anyone else”. Well, bagus buat Jai yang bisa nyari kebahagiaannya tanpa bergantung dengan orang lain. Kebahagiaan emang kita yang cari, tapi hakikatnya, kebahagiaan sejati berasal dari kebahagiaan orang-orang di sekitar kita. Sejujurnya, kebahagiaan berasal dari simpati, which means berasal dari hati nurani, sosialisasi, apapun di sekitar kita. Kebahagiaan itu tidak tunggal, ada variable bebas dan terikat, sebab-akibat. Jadi, kalau mau ditilik secara mendalam, hal yang dikatakan Jai bisa dibilang bertentangan. Tapi, karena ini adalah tulisan curahan hati, jadi mari lupakan detilisasi yang baru saja kuutarakan, hehe.

               Orang ketiga. Yah, sepanjang masa perjalanan cintaku (geli-_-), kayaknya sih nggak pernah putus gara-gara orang ketiga…pernah nggak, ya? Nggak lah kayaknya. Mungkin, sih. Habisnya kebanyakan dari mereka nggak pantas diingat lagi, dan sejujurnya—in this case, fortunately—aku juga pelupa-_- jadi ya begitu. Tapi aku pernah kok ngerasain terusik sama seseorang di luar lingkaran. Maksudku, orang-orang yang masih simpan rasa gitu sama cowokku. Tapi, aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya di posisi orang di luar lingkaran itu-_- dan sekarang aku jadi bingung akan membahas yang mana satu, hahaha.
  
              Baiklah, bagaimana kalau tidak keduanya. Kita bahas saja korban perselingkuhan yang pastinya nyesek sampai ke inti bumi. Being cheated on was sucks. Selain alasan basi “Kamu terlalu baik buat aku *puppy eyes* (BLAH!)”, “Aku mau fokus belajar (asli, ini alasan dari jaman Megantropus Paleojavanicus udah dipakai kayaknya-_-)”, “Kita nggak cocok lagi”, atau “Kamu nggak pernah ngertiin aku!”, diselingkuhin salah satu faktor terbesar untuk putus. Yah, walaupun masih aja ada yang sabar maafin pacarnya yang udah selingkuhin dia. Orang-orang yang termasuk di kalimat terakhir adalah jenis manusia yang antara sayangnya tulus dan orangnya tahan dimaki “Bego amat sih lu!” sama temen-temennya-_-
  
              Selingkuh itu jelas akibat bujuk rayu setan. Imannya nggak kuat, cinta hanya sekedar simbol, dan menjadi pengecut seketika karena enggan jujur untuk menyudahi yang sudah ada. Tamak? Bisa jadi. Kufur nikmat sih itu. Kasus pertama: pacar cantik/ganteng, tapi posesif. Jadinya capek, malas mutusin, mending selingkuhin. Kalau kalian ketemu sama tipe begini, gamparin aja, terus introspeksi diri karena kamunya juga salah. Kasus kedua: pacar jelek/wajah standard, buat selingan doang, selingkuhin karena mau cari selingan lain yang lebih oke. Kalau kalian ketemu sama tipe begini, bunuh di tempat. Kasus ketiga: udah pacaran lama, tapi hubungannya makin flat dan memutuskan untuk mencari “kebahagiaan” pada orang lain. Kalau kalian ketemu dengan tipe seperti ini ya sebaiknya dibicarakan aja. Bagusnya lagi nih, langsung putus biar nggak kebanyakan ngeles dianya. Kasus keempat: sama-sama doyan selingkuh. Kalau kalian tipe yang begini, mati aja dah, habis cerita-_-

                 Nah, demikian pembahasan kali ini. Semoga ada manfaatnya ya! Oh ya, kalau ada film keren yang udah di download, kasih tau Tari supaya bisa minta dan di email-in hoho. Buh-byeee~



P.S: berikut recently update dari sebuah website UK tentang Taylor Swift. Check this out! http://www.telegraph.co.uk/culture/music/rockandpopfeatures/10619561/Taylor-Swift-makes-eternal-teens-of-us-all.html


Xoxo,
Author 

1 komentar: