Writing is a passion for me. Dan aku juga suka banget nonton film dan baca
buku. Jadi, ceritanya, aku kemarin nonton film-nya Hilary Duff—Beauty and The
Briefcase, which was totally gawjess,
because it reminded me with my old dream, to be a bestseller writer or
freelance-reporter in magazine. Karena ceritanya tentang seseorang yang
ingin bekerja di majalah Cosmo, rasanya langsung pas aja waktu nonton. Karena
sejujurnya aku adalah freelancer di
sebuah koran lokal, and being a writer is
pretty fun. You can write a topic and
put your own thoughts on it—in a smart way, of course.
Well, I won’t write a review ‘bout that one,
tapi aku ingin kembali menjelajah ruang waktu mengenai apa saja yang udah aku
lewati selama 17 tahun terakhir. Dan syukur, Alhamdulillah, aku adalah jenis
orang yang berani untuk men-challenge
diri aku. Aku selalu tahu apa yang kumau. Dan aku bisa menentukan arah apa yang
akan aku tuju untuk ke depannya. Yah, tentu nggak semulus itu. Tapi aku cukup pede untuk survive
di tempat lain, I hope so, lol.
Ngomong-ngomong survive, sebentar lagi aku bakal
menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. So,
I’ve to prepare everything for my national examination. Yes, everything. Pelajaran yang di
UN-kan, percaya diri, kesiapan mental, fokus, dan pastinya memperbaiki iman.
Haha, yang terakhir harusnya nggak usah disebutkan, ya. Karena kelihatannya
beribadah hanya diperlukan pada saat-saat penting. Mostly, memang manusia seperti itu, dan aku pribadi juga kadang
demikian. Tak diragukan. Yah, aku nggak meratakan semua seperti itu, sih. Hanya
saja kan, manusia kadang suka lupa dengan siapa
yang sudah membuatnya bahagia dan sukses. Bukan manusia-manusia yang
terkait dengan kebahagian yang di dapat, tapi Tuhan lah yang patut diucapkan terima kasih, sebuah rasa syukur. Oke,
aku jadi kelihatan kayak ustadzah sekarang-_-
Kembali ke
menjelajah waktu dan survive. Uhm,
aku ini bisa dikatakan a dreamer,the good
one, haha. Sejak kecil, aku nggak pernah bercita-cita jadi dokter, guru,
polisi, pilot, atau hal-hal general seperti itu. Aku bercita-cita jadi peneliti
bintang di Bosscha, Bandung. Cool, eh?
Hahaha, pardon my narcissism :p hal
itu kudapat dari menonton film Petualangan Sherina. Remember? Saat Sherina bersembunyi di Bosscha, dan terdapat
teleskop raksasa di sana. It took my
breath away, rasanya pasti keren sekali kalau aku menggunakannya untuk
melihat benda langit. And, yeah, I got a
serious-curious illness type, haha. Jadi kupikir, untuk mendapatkan akses
ke Bosscha, aku harus menjadi seorang peneliti bintang atau angkasa. Bayangkan,
seorang anak berumur 6 tahun bisa berpikir sejauh itu. Kurasa aku mengalami
penuaan dini saat itu-_- atau kecerdasan dini? :p haha, lagi-lagi narsis,
maaf-maaf hehe.
Aku terus
menyimpan mimpi itu hingga aku tamat SD. Saat memasuki SMP, ibuku memberi
pengertian bahwa menjadi peneliti bintang tidaklah mudah. Setelah
kupikir-pikir, mungkin perkataan ibuku ada benarnya. Namun, tetap, mimpi itu
masih ada. Hanya, kusimpan baik- baik di dasar hati. Siapa tahu aku
berkesempatan mengunjungi Bandung dan menginjakkan kakiku di Bosscha, amin!!
Saat SD adalah
saat-saatnya aku menggilai komik. Aku mengoleksi komik Naruto dari volume
8-40an beserta komik genre romance
atau fights. Tapi semua komik itu
kandas begitu saja karena dibuang oleh ibuku tanpa sengaja-_- ya, sangat
disayangkan. Kalau dihitung-hitung aku sudah mengeluarkan uang ratusan ribu
untuk mengoleksinya haha. Kemudian, aku mulai beradaptasi dengan gambar-gambar
itu. Berhubung aku senang menggambar sejak kelas 3 SD dan berlatih cukup keras
untuk memperbaiki “kualitas”-nya, jadi aku mencoba untuk menggambar manga atau seni gambar ala komik Jepang.
Dari sana, aku menemukan passion
baruku; menggambar komik. Aku juga cukup pede untuk urusan satu ini, haha. Aku
berusaha untuk mengembangkan hobiku. Ada beberapa teknik dalam penggambarannya
yang tak bisa kuterapkan karena keterbatasan alat yang tidak beredar di
Indonesia. It’s a lil’ bit hard, but I’ve
tried my best so far. Alhamdulillah,
hobiku ini masih kutekuni sampai sekarang :) aku pernah mencoba untuk membuat
satu komik, sudah setengah jalan, namun berhenti karena tidak sempat
meneruskannya. Akhirnya aku beralih dari komikus menjadi mangaka. Hehe, sama saja sih sebenarnya-_- hanya saja, aku
menggambar just for fun, bukan untuk
mengejar target komik seperti dulu.
Lulus dari SD,
aku mengikuti ekskul basket saat kelas 1 SMP bareng Ryry dan Amalia Malik—one of my best buddy, dia sekarang masih
bersekolah di pesantren Temenggung. Aku pun lantas bercita-cita menjadi pemain
basket profesional. Nggak tinggi-tinggi kok sampai nasional, tingkat regional
pun udah keren banget. Tapi, sayangnya, ayahanda melarang, huhu. Katanya ekskul
basket bikin aku nggak fokus belajar. Jadi, saat akhir semester 1, aku resmi
keluar dari ekskul itu. Dan kembali, mimpiku kandas, haha. Namun hal itu nggak
bikin aku berhenti main basket. Still, I
play it with my friends, and chill every moment with them.
I had a best time ever in Junior High. Karena
aku bersekolah di SMP berkualitas RSBI dan masuk ke kelas khusus RSBI—yang
notabene mentereng abis saat itu, jadi keren banget rasanya. Soalnya cuma 27
orang di kelasku. Kekeluargaannya kerasa banget. Aku masih ingat gimana kami
selalu nunggu-nunggu dengan semangat tiap hari Sabtu, karena kami pasti goro
bersihin kelas. Bersihin kelas, means
mutar lagu favorit di DVD. Yeup, kelas khusus RSBI di fasilitasi TV, DVD,
loker, dan AC di dalam kelas. Jadi berasa eksklusif gitu, haha. Kalau udah
mutar lagu, pasti makin semangat bersihin kelasnya. Nanti, selesai goro, kami
patungan beli aqua kotak buat diminum bareng-bareng. Keren abis. Duh, aku jadi
pengen balik SMP lagi nih, haha. Belum lagi kalau sebelum pemantapan saat kelas
3, kami makan dan sharing bekal di
samping kelas. Duduk berjajar ramai-ramai, mau cewek atau cowok pada gabung.
Plusss, kalau ada yang bawa kaset bajakan yang seru, pasti diputar di kelas
kalau kebetulan jam pelajaran lagi kosong. Merdeka banget, tuh. Hh, junior high~
Sebelum aku
menginjak kelas 3 SMP, tepatnya kelas 2, salah satu temanku menyuruhku beralih
dari mangaka dengan alasan
“Menggambar benda hidup kan haram, Tar. Kenapa nggak coba jadi penulis?” Haha,
IIm Fatimah namanya. Dia juga yang memperkenalkanku pada sebuah novel. Rasa
ingin tahuku terusik, jadi aku mencoba untuk “menyelami”-nya. Semakin lama,
tanpa kusadari, aku sudah jatuh terlalu dalam. Asik, haha. Jadilah aku
penggemar novel dan berburu novel bersama Ryry dan Amel. Nah, dari sinilah
ketertarikanku dalam dunia menulis dimulai. Jeng, jengg! Aku merasa nyaman dan
berlatih di setiap waktu yang kupunya. Ternyata lebih menyenangkan menuangkan
perasaanku lewat tulisan, dan aku menyadari bahwa aku sangat baik mengungkapkan
apapun lewat tulisan. Ditambah lagi sifatku yang hopeless-romantic semakin memudahkanku untuk menulis cerita cinta
yang menye-menye. Haha, kapan-kapan aku post cerpenku ya ;)
![]() |
Naik ke kelas
berikutnya, saat aku kelas 3 SMP, ntah dari mana datangnya, benakku menangkap
ide untuk mendirikan pondasi mimpiku berikutnya; menjadi owner café. Dan café-nya akan kuberi nama STALLION CAFÉ, sesuai
dengan nama kelasku waktu itu. FYI,
STALLION adalah singkatan dari Straight To an Amazing Loyal and Liberty Nine
One. Haha, rada maksa ya? Maklum, namanya juga anak SMP :p aku berpikir untuk
menjadi seorang entrepreneur saat
itu. Akan tetapi, setelah aku mengenal pelajaran Ekonomi di SMA, aku mencoba
mendatangi guru ekonomiku dan berkonsultasi mengenai rencanaku. Aku bertanya
mengenai posibilitas usahaku jika aku menjadi pegawai di suatu perusahaan
sekaligus menjadi owner sebuah café.
Beliau mengatakan akan sulit mengendalikan dua pekerjaan seperti itu. Kalaupun
tetap ingin, aku harus memberi seseorang kewenangan untuk menjalankan roda
usaha—which means, orang itu adalah
sosok yang benar-benar kupercaya, sedangkan aku nanti hanya menerima laporannya
saja. Hmm, aku kembali berpikir matang tentang rencana yang sudah kususun dulu.
Mungkin aku harus struggle banget,
karena mengumpulkan modal dan semuanya tidak bisa dilakukan dalam waktu
singkat.
Jadi, sama
seperti mimpi-mimpiku yang lain, aku simpan keinginan itu di dasar hati.
Sembari berdo’a semoga semua yang kuinginkan mampu kucapai dan menemukan jalan
yang dianugerahi olehNya, amin :)
And now, aku akan dihadapi oleh situasi
yang lebih berat dibanding sebelumnya. Karena tentu saja yang akan kuambil
adalah sebuah langkah besar yang akan menentukan masa depanku. Jika saat aku
berumur 5 tahun, aku sangat ingin sekolah, ayah-ibuku bisa mencarikanku SD di
kotaku. Saat SD, aku mendaftar sendiri SMP bertaraf RSBI di kotaku dengan
teman-teman. Saat SMP, aku mati-matian berusaha masuk ke SMA yang kuinginkan,
dan akhirnya aku mendaftar pula sendiri tanpa orang tua dengan teman-temanku
yang lain. Sedangkan kuliah? Ya, aku tahu aku bisa mendaftar sendiri tentunya.
Namun aku bisa tenang dulu karena semua sekolah dasar dan menengahku ada di
satu kota yang sama dan bisa kuraih tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Terkadang
aku worry untuk hal-hal tertentu. You know, kalau kuliah di luar kota,
tentunya banyak yang harus dilalui. Memulai semuanya dari nol. Benar-benar NOL,
astaga, aku baru sadar sebesar apa masalahku yang harus kuhadapi kalau aku
berhasil lolos SNMPTN nanti, hahaha.
Tapi aku nggak bisa mundur dan aku nggak boleh nyerah. Yang kubutuhkan
adalah kebulatan tekad.
Hari ini udah
H-75 Ujian Nasional. Hari-hari dengan cepat banget berlalu. Makin deg-degan
pastinya. Fuhh, ya Allah, tiba-tiba nervous
hahaha. Yah, semoga semuanya dilancarkan, ya. Amin :) dengan demikian, sekian
cerita panjang dari Tari, The Daydreamer
yang doyan banget ngayal plus lasak segalaksi. Terima kasih sudah sudi membaca.
Masih ditunggu komen-komennya :D let’s
share!
Loves
Author













