Hello, folks! Balik lagi sama author.
Hmm, enaknya ngebahas apa ya kita? Karena belum ada kejadian yang menarik, mari
kita bicarakan apa hot news yang
merebak di sekolahku akhir-akhir ini. Ready?
Berhubung aku sekarang sudah
kelas 3 SMA, which means akhir periode masa sekolahku, jadi
teman-temanku sedang berunding (untungnya tidak di meja bundar, fufu) tentang
tema buku tahunan yang akan kami ambil. Setelah melakukan birokrasi yang
berbelit-belit dan menyita waktu (as
usual), kami sepakat untuk mengambil tema Carnival Night. Woohoo! Sounds
great, uh? Lokasinya sih masih di rundingkan (lagi), mengingat sedikit
banget tempat bagus di Batam. Atau mungkin banyak, tapi kami saja yang tidak
tahu, hehe. But, so far, lokasinya
bakal di take di Megawisata Ocarina.
Nah, berhubung pemotretan akan dilakukan bulan depan, tepatnya tanggal 15 Februari, jadi aku nggak bisa post dulu foto-fotonya. Coming soon, okay? Hehe. Tapi tetap, aku nggak sabar nunggu karena ini bakal memorable bangettt. Kenapa aku excited? Karena memang aku ini plegmatis-melankolis, jadi aku appreciate banget hal-hal seperti ini. Apa itu plegmatis? Melankolis? Aku bahas di lain waktu, ya. Promise ;)
Ngomong-ngomong, aku juga pengen
cerita sesuatu yang—uhm—agak sedikit mengarah ke curhat. Haha, iya-iya, ini
soal cinta. Tapi bukan yang menye-menye-menyayat-hati-rada-lebay-bikin-geli,
kok. Ini baru-baru terjadi, dan bikin rada nyesek juga. Apa itu?
Yah, rasanya lucu, ketika ada
seseorang yang dulu mampu membuatmu berhenti bernapas, mengaburkan logikamu
agar terus bersamanya setiap milisekon, namanya bergaung dalam pikiranmu tanpa
henti, dan merasakan hangat genggamannya di hatimu tanpa kau tahu kenapa,
berputar 180 derajat menjadi seseorang yang kau—hm, hindari. Yeah, I realized that time heals. Jadi, buat
lo-lo pada yang ngerasa belum bisa move
on atau apalah itu namanya, satu kata buat lo, man… woles. Tahu woles? Itu kebalikan dari “selow”, atau bahasa slang-nya “slow”. Yeah, yeah, I know,
Indonesia everyone.
So, balik lagi ke topik kita di
atas. Ketika mantan berubah menjadi
teman, itu luar biasa. Kalau mantan jadi lawan, itu biasa. Selama ini, kalau
ada yang putus, biasanya sih cold war
dulu, alias perang dingin. Awkward, gengsi,
nangis, cari pelarian, wah, ritual banget tuh. Tapi pasti kalian punya satu
mantan yang—katakanlah “yang terbaik” di antara beberapa mantan, atau dari
seluruh koleksi mantanmu selama ini. Umur-umur setara seperti aku sekarang ini
pasti lagi seneng-senengnya larak-lirik cowok. Nggak usah muna, deh. Kalau
cowok cakep lewat pasti dilirik juga, kan? Jelaaas, rejeki. Apalagi kalau mulai
ada feeling sama seseorang. Yah, walaupun nggak pernah
sampai benar-benar suka, tapi setidaknya pernah “suka” dengan seseorang.
Bagaimana “suka”-nya bisa kalian definisikan masing-masing. Nggak pernah
suka?-_- duh, gimana ya, yaudah deh baca aja post-an ini sampai selesai. Kali aja ada manfaatnya gitu buat
orang-orang di sekitarmu.
Mungkin, seiring dengan waktu, rasa yang tersimpan itu memudar perlahan
tanpa kamu sadari. Ya, tanpa kamu sadari. Karena setiap detik jarum jam yang
terlewat, kalian sudah bertemu dengan banyak orang, menjalani aktifitas yang
berbeda, hang out, dan lain-lain.
Dengan serangkaian perilaku yang kalian lakukan secara terus-menerus menggerus
apa yang sudah lama terpatri, dan diganti dengan sesuatu yang baru, fresh from the oven. Pertanyaannya
adalah; manakah yang akan kamu lahap, makanan yang tersimpan di lemari es,
beku, dan hambar? Atau yang baru saja kalian beli di supermarket?
Mengapa beku? Mengapa hambar? Beku, karena terlalu lama disimpan dan
malah tidak lagi kalian pikirkan namun tetap kalian simpan. Saat kalian
menyentuhnya kembali, ia terasa
dingin dan jauh. Hambar, karena kalian tak lagi mempersempit jarak yang sudah
melebar. Yah, mungkin kalian pernah mempersempit jarak itu, tapi sebagai mantan
yang tahu diri, nggak mungkin juga kalian manggil-manggil “sayang” satu sama
lain di SMS, BBM, LINE, Whatsapp, Path atau apalah itu namanya. Kalau kalian
masih manggil “sayang”? berarti kalian HTS-an. Karena itu di luar topik, jadi
aku nggak akan membahasnya lebih lanjut.
Mungkin, bagi kalian yang pernah
mengalami, heran mengapa bisa-bisanya sebuah chat singkat dengan topik sepele mampu mengubah perasaan seseorang
secepat kedipan mata—dalam hal ini cinta menjadi benci, atau illfeel, atau flat, atau apalah itu. Yah, mungkin karena faktor-faktor yang sudah
kusebutkan sebelumnya; time heals,
perasaan kita membeku dan hambar ketika kembali
dihadapkan dengan orang yang sama. Sudah begitu, semakin diperburuk lagi dengan
kelakuan dan perkataannya-_-
Dan mungkin juga kalian yang
membaca posting-an ini pernah
mengalami hal yang lebih tragis. Tapi percayalah, ketika kau dicampakkan,
jangan pernah meminta kembali. Karena aku sudah mengalami fase itu, jadi
kusarankan saja ya, jangan. Pernah. Meminta. Kembali (oke, aku tahu aku udah
ngomong ini dua kali-_-). Just… don’t.
Atas nama apapun itu. Atas nama harga diri, R.A. Kartini, emensipasi wanita,
atau apalah itu. Karena kalian lebih berharga untuk dijaga daripada dicampakkan
oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Tunggu saja tanggal mainnya, Tuhan
tidak tidur <--- kalimat andalan anti-galau, haha.
![]() |
| It's a yes |
![]() |
Ah, ya satu hal lagi. Jangan mentang-mentang pacarmu kurus, lalu kalian seenaknya saja mengatai orang lain gendut dengan lantang. Jangan mentang-mentang pacarmu tajir, lantas kalian seenaknya saja mengatai orang lain payah karena pacaran dengan orang kurang mampu. Jangan mentang-mentang pacarmu bertampang oke, kemudian seenaknya saja kalian menjelekkan mereka yang berpacaran dengan yang tampangnya pas-pasan. Ingat, everything happened for a reason.
Kalian bisa aja pacaran sama yang bodinya kurus, tapi Tuhan nggak memberi waktu yang lama bagi hubungan kalian. Pacaran dengan orang yang tajir, tahunya dikatain matre. Pacaran sama yang tampangnya oke, malah diduain. Aku nggak menyumpahi kalian yang berpacaran dengan kualifikasi cowok/cewek di atas rata-rata, hanya saja, aku menghimbau agar jangan terlalu sesumbar dengan apa yang kalian punya dan menjelek-jelekkan orang lain. Karena yang sombong tidak akan dimudahkan jalannya oleh Tuhan. Membalikkan takdir bagiNya semudah kedipan mata. Jadi, lebih berhati-hati saja ke depannya dalam bertindak. Tapi satu hal yang pasti, sesulit apa pun masa yang sudah kalian lewati, sejauh apa pun jarak yang kalian lalui, cinta sejati akan menemukan jalannya kembali. Asik, haha, udah ah, jadi geli sendiri-_-
Sooo, sekian sesi pembicaraan yang agak melibatkan emosi pribadi
kali ini. Agak panjang dan melelahkan ya? Hahaha, maaf deeh. Untuk kalian yang
udah mau habisin waktunya buat baca, sudilah kembali kiranya meninggalkan komen
atau pesan-kesan yang positif lagi membangun di bawah posting ini. Kita bertemu di posting-an
selanjutnya.
Cupss,
Author







Tidak ada komentar:
Posting Komentar